Berdasar
pada Trinidad and Tobaco Bureau of Standards (TTBS), Corporate Social
Responsibility diartikan sebagai komitmen usaha untuk bertindak etis,
beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi bersamaan
dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya, komuniti lokal
dan masyarakat secara lebih luas (Budimanta,Prasetijo & Rudito, 2004,
p.72).
World
Business Council for Sustainable Development mendefiniskan Corporate Social
Responsibility sebagai komitmen berkelanjutan kalangan bisnis untuk berperilaku
etis dan memberikan sumbangan pada pembangunan ekonomi sekaligus memperbaiki
mutu hidup angkatan kerja dan keluarganya serta komunitas lokal dan masyarakat
secara keseluruhan (Iriantara, 2004, p.49). “Corporate Social Responsibility
adalah komitmen perusahaan untuk meningkatkan
kesejahteraan komunitas melalui praktik bisnis yang baik dan mengkontribusikan
sebagian sumber daya perusahaan” (Kotler & Nancy, 2005,p.4).
Jadi, dapat
kita simpulkan bahwa Corporate Social Responsibility adalah komitmen perusahaan
untuk memberikan kontribusi jangka panjang terhadap satu issue tertentu di
masyarakat atau lingkungan untuk dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik.
Kontribusi dari perusahaan ini bisa berupa banyak hal, misalnya : bantuan dana,
bantuan tenaga ahli dari perusahaan, bantuan berupa barang, dll. Di sini perlu
dibedakan antara program Corporate Social Responsibility dengan kegiatan
charity. Kegiatan charity hanya berlangsung sekali atau sementara waktu dan
biasanya justru menimbulkan ketergantungan publik terhadap perusahaan.
Sementara, program Corporate Social Responsibility merupakan program yang
berkelanjutan dan bertujuan untuk menciptakan kemandirian publik (“Paradigma
Baru CSR”, Oktober 2006).
Lima Pilar
Aktivitas Coprorate Social Responsibility
Dalam
penelitian kali ini konsep Corporate Social Responsibility akan diukur dengan
menggunakan lima pilar aktivitas Corporate Social Responsibility dari Prince of
Wales International Bussiness Forum, yaitu (Wibisono, 2007,p.119) :
Building Human Capital
Secara
internal, perusahaan dituntut untuk menciptakan SDM yang andal.
Secara eksternal, perusahaan dituntut untuk melakukan pemberdayaan
masyarakat, biasanya melalui community development.
Strengthening Economies
Perusahaan
dituntut untuk tidak menjadi kaya sendiri sementara komunitas di lingkungannya
miskin, mereka harus memberdayakan ekonomi sekitar.
Assessing Social Chesion
Perusahaan
dituntut untuk menjaga keharmonisan dengan masyarakat sekitarnya agar tidak
menimbulkan konflik.
Encouraging Good Governence
Dalam
menjalankan bisnisnya, perusahaan harus menjalankan tata kelola bisnis dengan
baik.
Protecting The Environment
Perusahaan
berupaya keras menjaga kelestarian lingkungan.
“Contoh perusahaan yg telah menerapkan Corporate
Social Responsibility (CSR) pada PT Bank Internasional Indonesia Tbk”
menyelenggarakan program tanggung jawab sosial (CSR)
bernama ‘BII Berbagi’. Vice President Corporate CommunicationsBII, Esti
Nugraheni menjelaskan, visi dari program ini membantu masyarakat membangun masa
depan yang lebih cerah.
BII Berbagi fokus pada tiga bidang utama, yakni
pendidikan ( education), kegiatan untuk mendukung hidup yang sehat ( promote
healthy life), serta lingkungan dan kemasyarakatan ( environment &
community) dengan tetap memiliki kepekaan terhadap situasi yang terjadi di
Tanah Air, seperti jika terjadi bencana alam.
Di bidang pendidikan, BII menyadari tidak semua orang
memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-citanya. Itulah mengapa bank
ini fokus di bidang pendidikan guna membantu mereka yang kurang mampu dalam
mencapai masa depan yang lebih cerah.
Program pendidikan yang dimaksud, di antaranya
beasiswa untuk siswa dan mahasiswa berprestasi dan kurang mampu. Selain itu,
juga ada program pengembangan kompetensi perilaku (softskill).
BII juga, lanjut Esti, aktif mengunjungi sekolah (
school visit). ”Dalam pelaksanaan program ini akan dilakukan serangkaian
kegiatan, seperti pengajaran pengetahuan umum, ilmu perbankan dasar, dan
komputer,” paparnya.
Program CSR lainnya, adalah mendukung pola hidup sehat
melalui kegiatan olahraga, seperti pembentukan spirit dan kultur untuk menjadi
juara dan mewujudkan gaya hidup sehat, serta peduli terhadap peningkatan gizi
5.000 anak di 20 kota di Indonesia yang bekerja sama dengan World Food
Programme (WFP). Peduli lingkungan, seperti penanaman pohon juga menjadi salah
satu poin penting program CSR bank ini.
Pengertian Etika
Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang
berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan
erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu
“Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau
cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan
menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya,
tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau
moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah
untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.
Pengertian Etika bisnis
Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup
seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan juga masyarakat.
Etika Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku
karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan
pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, masyarakat.
Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk
melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan
individu, perusahaan, dan juga masyarakat. Kesemuanya ini mencakup bagaimana
kita menjalankan bisnis secara adil, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan
tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat.
Etika bisnis lebih luas dari ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan merupakan
standar yang lebih tinggi dibandingkan standar minimal ketentuan, karena dalam
kegiatan bisnis seringkali kita temukan wilayah abu-abu yang tidak diatur oleh
ketentuan hukum. Berikut teori-teori Etika bisnis.
Teori Utilitasme
* Utilitas berarti “bermanfaat”
* Menekankan Pembangunan Berkesinambungan
* Mementingkan Konsekuensi
* Dikritk dalam hal : Keadilan dan Hal
* Dibedakan Utilitariasme perbuatan dan Utilitarisme Aturan
Teori Hak
* Hak tidak dapat dipisahkan dari kewajiban
* Didasarkan bahwa martabat manusia sama
* Semakin banyaj Etika Bisnis menekankan hak
Teori Keutamaan
* Mementingkan sikap atau akhlak seseorang
* Karena hidup yang baik virtuous life (hidup berkeutamakan)
* Keutamaan tidak sama untuk setiap bidang
* Keutamaam, pebisnis: Kejujuran, fairness, kepercayaan, keuletan
Von der Embse dan R.A. Wagley dalam artikelnya di Advance Managemen Jouurnal
(1988), memberikan tiga pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika
bisnis, yaitu 1. Utilitarian Approach: setiap tindakan harus didasarkan pada
konsekuensinya. Oleh karena itu, dalam bertindak seseorang seharusnya mengikuti
cara-cara yang dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat, dengan
cara yang tidak membahayakan dan dengan biaya serendah-rendahnya. Individual 2. Rights Approach: setiap orang dalam tindakan dan kelakuannya memiliki
hak dasar yang harus dihormati. Namun tindakan ataupun tingkah laku tersebut
harus dihindari apabila diperkirakan akan menyebabkan terjadi benturan dengan
hak orang lain. 3. Justice Approach: para pembuat keputusan mempunyai kedudukan yang
sama, dan bertindak adil dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan baik
secara perseorangan ataupun secara kelompok.
Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk
membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta
mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan
suatu landasan yang kokoh.
Biasanya dimulai dari perencanaan strategis, organisasi yang baik, sistem
prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang handal serta
etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen.Haruslah
diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika bisnis akan selalu menguntungkan
perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang, karena :
• Mampu mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi, baik
intern perusahaan maupun dengan eksternal.
• Mampu meningkatkan motivasi pekerja.
• Melindungi prinsip kebebasan berniaga.
• Mampu meningkatkan keunggulan bersaing.
Tidak bisa dipungkiri, tindakan yang tidak etis yang dilakukan oleh perusahaan
akan memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat dan akan sangat
kontra produktif, misalnya melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar,
larangan beroperasi dan lain sebagainya. Hal ini akan dapat menurunkan nilai
penjualan maupun nilai perusahaan.
Untuk menciptakan Etika bisnis terlebih dahulu harus mempunyai beberapa faktor,
antara lain: 1. Pengendalian diri
Artinya, pelaku-pelaku bisnis dan pihak yang terkait mampu mengendalikan diri
mereka masing-masing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam
bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan
keuntungan dengan jalan main curang dan h pihak lain dan menggunakan keuntungan
dengan jalan main curang dan menakan pihak lain dan menggunakan keuntungan
tersebut walaupun keuntungan itu merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi
penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. Inilah
etika bisnis yang “etis”.
2. Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility)
Pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan
hanya dalam bentuk “uang” dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih
kompleks lagi. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku
bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess
demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak
memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi,
dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan
memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya.
3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh
pesatnya perkembangan informasi dan teknologi Bukan berarti etika bisnis anti
perkembangan informasi dan teknologi, tetapi informasi dan teknologi itu harus
dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak
kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan
teknologi.
4. Menciptakan persaingan yang sehat
Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas,
tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya, harus
terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah
kebawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan
spread effect terhadap perkembangan sekitarnya. Untuk itu dalam menciptakan
persaingan perlu ada kekuatan-kekuatan yang seimbang dalam dunia bisnis
tersebut.
5. Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”
Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang,
tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa mendatang. Berdasarkan
ini jelas pelaku bisnis dituntut tidak meng-”ekspoitasi” lingkungan dan keadaan
saat sekarang semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan
dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh
keuntungan besar.
6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan
Komisi)
Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak
akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala
bentuk permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang
mencemarkan nama bangsa dan negara.
7. Mampu menyatakan yang benar itu benar
Artinya, kalau pelaku bisnis itu memang tidak wajar untuk menerima kredit
(sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa dipenuhi, jangan menggunakan
“katabelece” dari “koneksi” serta melakukan “kongkalikong” dengan data yang
salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan “kolusi” serta memberikan
“komisi” kepada pihak yang terkait.
8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan
golongan pengusaha kebawah
Untuk menciptakan kondisi bisnis yang “kondusif” harus ada saling percaya
(trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah agar
pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan pengusaha lainnya yang sudah
besar dan mapan. Yang selama ini kepercayaan itu hanya ada antara pihak
golongan kuat, saat sekarang sudah waktunya memberikan kesempatan kepada pihak
menengah untuk berkembang dan berkiprah dalam dunia bisnis.
9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati
bersama
Semua konsep etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan dapat terlaksana
apabila setiap orang tidak mau konsekuen dan konsisten dengan etika tersebut.
Mengapa? Seandainya semua ketika bisnis telah disepakati, sementara ada
“oknum”, baik pengusaha sendiri maupun pihak yang lain mencoba untuk melakukan
“kecurangan” demi kepentingan pribadi, jelas semua konsep etika bisnis itu akan
“gugur” satu semi satu.
10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang
telah disepakati
Jika etika ini telah memiliki oleh semua pihak, jelas semua memberikan suatu
ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis.
11. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hukum
positif yang berupa peraturan perundang-undangan
Hal ini untuk menjamin kepastian hukum dari etika bisnis tersebut, seperti
“proteksi” terhadap pengusaha lemah. Kebutuhan tenaga dunia bisnis yang
bermoral dan beretika saat sekarang ini sudah dirasakan dan sangat diharapkan
semua pihak apalagi dengan semakin pesatnya perkembangan globalisasi dimuka
bumi ini. Dengan adanya moral dan etika dalam dunia bisnis serta kesadaran semua
pihak untuk melaksanakannya, kita yakin jurang itu akan dapat diatasi, serta
optimis salah satu kendala dalam menghadapi tahun 2000 dapat diatasi.
Etika pariwara
yang berisi sekumpulan nilai dan pola laku moralitas periklanan ini lebih lagi
memiliki arti penting bagi mereka yang di pasar. Padahal mereka paham bahwa
pesan periklanan bukanlah perintah untuk melangkah ke kasir toko, namun seni
dan strategi berniaga untuk dipilih.
Lalu muncul pertanyaan adakah etika pariwara atau etika iklan yang kurang
etis?
jawab saya "ADA" , kali ini saya akan memberikan contohnya dan
analisis singkatnya.
Taukah anda iklan pasta gigi xx ? saya rasa mungkin semuanya sudah
mengetahuinya. Pada era
moderen seperti sekarang ini, persaingan antar lembaga, terutama lembaga bisnis
makin ketat. Berbagai lembaga bisnis tumbuh bak bajir di musim hujan. Dampaknya,
tentu makin ketatnya persaingan di antara mereka, terutama untuk
lembaga-lembaga bisnis dengan produk –produk yang sejenis
Berdasarkanhasil yg saya lihat di
televisi tersebut, baik terhadap gambar, narasi, serta musik pengiring, maka
ditemukan hal-hal sebagai berikut :
1.Iklan pasta gigi xx yang
ditampilkanmalalui televisi,
memanfaatkan bahasa tubuh Pria dan wanita, dengan penampilan yang terkesan
sensual, serta memanfaatkan keindahan senyum giginya kepada lawan jenis, agar menggunakan
produknya yang ditawarkan.
2.Kesan pemanfaatan senyuman sangat
kuat dengan mengkonstruksi seolah-olah tubuh ideal yang mereka kesankan melalui
iklan tersebut merupakan mitos.
3.Iklan pasta gigi yang ditampilkan di
televisi terkesan kurang memperhatikan etika ketimuran serta pedoman perilaku
penyiaran dan standar program siaran (P3SPS) KPI serta lembaga yang berwenang
berdasarkan UU No.32 tahun 2002 tentang penyiaran. Khususnya terkait dengan
tugas utamanyya mengatur serta mengawasi isi siaraan demi kepentingan
masyarakat sebagai pemilik frequensi yang dipinjamkan kepada pengelola
penyiaran, termasuk televisi.
4.Kesan eksploitas bahasa tubuh pria
dan wanita untuk kepentingan pengiklan dalam iklan pasta gigi di televisi
dengan penonjolan gambar bergerak yang dibarengi musik yang memperlihatkan
bagian-bagian sensitif tubuh wanita beserta gerakan-gerakanya yang terkesan
sensual yang ditampilkan didepan umum, terlebih pada jam-jam tayang prime time
di mana hampir seluruh usia menonton.
Kedepan
semuanya tergantung kepada para pengiklan serta para pengelola medai. Mereka
harus sadar bahwa memanfaatkan bahasa tubuh yang cenderung mengeksploitasinya
bukan tidak mungkin menimbulkan dampak yang negatif bagi khalayak luas di
indonesia rata-rata tingakat pendidikanya. Masi sangat rendah. Karena itu,
rubahan yang ekstrim dalammenampilkan
iklan kosmetika meski tetap terkait serta memanfaatkan bahasa tubuh,namun harus tetap saja dibatasi oleh P3SPS
serta pandangan keagamaan dan rendahnya rata-rata tingkat pendidikan
masnyarakat tersebut. Caranya antara lain dengan menampilkan iklan-iklan pasta
gigi xx dengan tetap memanfaatkan bahasa tubuh secara etis dan terbatas, namun
tetap menarik untuk ditonton, sehingga produk yang ditawarkan akan diketahui,
diminati, dan akhirnya digunakan secara proporsional kepada audience.
19rd March, 2012 by IBENU K.A Objective: Mahasiswa
1. Definition of Management
Management is an integrated process in which individuals as part of the organizations involved to plan, organize, execute and control activities, all of which are directed at targets that have been determined and persistent over time. Management process to run smoothly, and the system required a solid organizational structure. On the organization, all activities should be oriented to the achievement of targets. The organization serves as a container to pour the concepts, management ideas. So we can say that management is a series of responsibilities that are closely related to each other.
1.2 Definition of figuring
Cybercafe or internet cafe is one of a promising business in Indonesia. Usually the spread of Internet in public places, both schools and places of business. Most of the cafe-cafe falling because consumers are not satisfied until a natural disaster. Internet cafe management is needed to avoid this and to build better conditions.
1.3 Initial Investment figuring Opening
Open in early March 2010, a capital of 10 million Plus I was just a lcd 15 "
1.of 10 million that I can get 3 units of pentium 4 computer memory @ 512 mb with 20 gb hard disk.
2.at 1-5 months of the cafe was deserted condition of new subscribers at month 6 there is money collected so as to buy another 1 unit pentium 4 again. so on every month to buy one unit of Pentium 4.
3.to walk skearang almost 2 years the number of client computers to 15 computers with details of the 8 units of Pentium 4 and 7 duol core unit.
1.4 Building Warnet
To start building a cafe, starting with a market survey to prepare the hardware and software.
1.Surveys in some future time be accepted or not
2.Determine the exact position to place / location cafe
3.Determine how many users maximum for cafe
4.Determine the hardware needed for cafes, such as: • computer to checkout computer to the cashier, I recommend at least a pentium 4.
5.computer to a server / firewall. Some computer cafe cashier and choose merge into a single server to reduce costs.
6.computer user. Customers can be determined, whether the facility can use a webcam, sound, mic, and others.
7.Another thing that sold other than services of the cafe. Customers who had long been in the cafe will have problems if he left his position. Selling drinks and even food can be an alternative. Internet cafes can also sell other items such as Flash disk to paper.
8.Safety equipment. The disaster happened because of man and nature are common. Preparing tindakam prevention equipment is a good preventive.
9.Choose the provider. To choose your provider depending on the needs of the cafe, if purely for internet cafes please take a 1 mega speedy package (enough to serve up to 10 clients) when opening an online game (such as point blank) I suggest taking a separate network from the rest
10.Choosing a payment technique. Several techniques are known / used by the cafe. • Calculation of hourly • Calculation of per minute • Calculation Per unit of time. 20 minutes, 15 minutes even 30 minutes. • Select a minimum payment. Standard range of different cafes, some
draw the line at least 30 minutes, 1 hour and even 10 minutes.
11.Choosing a payment tolerance. Tolerance here means more time than that used by the customer before he entered the next time. For example: A customer was in the cafe system per 15 minutes. He wore for 1 hour 2 minutes. In which cafe tolerate 5 minutes before he entered the time of the next 1 minute and 15 minutes. Some cafes do not tolerate, if the customer has entered into a second later than 1 hour, then he is considered to enter the next time.
1.5 computer to the cashier, I recommend at least a pentium 4.
computer to a server / firewall. Some computer cafe cashier and choose merge into a single server to reduce costs.
1.6 computer user. Customers can be determined, whether to use the facility webcam, sound, mic, and others.
·other services that are sold in addition to the cafe. Customers who had long been in the cafe will have problems if he left his position. Selling drinks and even food can be an alternative. Internet cafes can also sell other items such as Flash disk to paper.
·safety equipment. The disaster happened because of man and nature are common. Preparing tindakam prevention equipment is a good preventive.
1.7 Selecting a provider.
To choose your provider depending on the needs of the cafe, if purely for internet cafes please take a 1 mega speedy package (enough to serve up to 10 clients) when opening an online game (such as point blank) I suggest taking a separate network from the rest.
1.8 Choosing a payment technique. Several techniques are known / used by cafe.
·Calculationofhourly
·Calculation of per minute
·Calculation Per unit of time. 20 minutes, 15 minutes even 30 minutes.
·Select a minimum payment. Standard range of different cafes, some draw the line at least 30 minutes, 1 hour and even 10 minutes.
·Selecting payments tolerance. Tolerance here means more time than that used by the customer before he entered the next time. for example: [1] Some cafes do not tolerate, if the customer has entered into a second later than 1 hour, then he is considered to enter the next time.
1.9 Hardware Problem.
Always be aware of hardware issues. The worst of these problems are can lead to catastrophic fires.
·The mouse does not move or problematic. There are various solutions to deal with the mouse. This solution applies to the keyboard problem
·Disconnect from the port and re-enter.
·Replace the Mouse.
·Monitor problems. Always pay attention to monitor the condition of the customer. Monitor customers are very old compared to the monitor
2.0 Software Problem
Software problems can vary from minor problems and weight problems. The most heaviest of the matter is Reformat. But there is a solution for a quick install is to create a ghost file.
2.1 The issue of customer
·Customers vary. From the polite and anarchists. Affirm you and ask for help when the constriction.
·The customer asked for help. Always lock the place of payment of money before helping yourself and lock your computer before coming by pressing (Alt + ctrl + del) and select the standby or lock your computer.
·The customer opens a porn site. Define your attitude is mainly follow the rules of the cafe, whether to allow or liberating. When someone asks to open a porn site, admonish and report to your supervisor.
·Customer facility damage. Scolds and stop him, if circumstances demand that the customer goes to heat up. Damage to facilities / hardware will be the responsibility of those who served on the shift.
2.2 Customer borrow
Make sure there are no customers who do penghutangan. At the checkout please write a request for'' no'' to the customer menghutang. Menghutang expected no events. If he menghutang and put there goods as collateral, make sure the goods belonged to him.
2.3 Crime in the cafe
Cafe that runs 24 hours a night or over the limit at 21.00 prone to crimes like robbery and hold-up. Including hardware theft.