wiana1203

Minggu, 11 Maret 2012

KALKULASI BIAYA EKSPOR IMPOR

KALKULASI BIAYA EKSPOR IMPOR

Maret 9rd, 2012 by IBENU K.A

Komponen Biaya Ekspor

§ Biaya produksi (sebagai produsen), nilai beli barang (jika kita sebagai traders saja)

§ Handling chargers

§ Pungutan negara (Pjak Ekspor/ Pajak Ekspor tambahan)

§ Lain-Lain seperti : biaya bunga bank, surveyor fee, sertifikasi.

CONTOH : MENGHITUNG HARGA JUAL 1 SET KURSI ROTAN

1. Bahan baku Rp. 500.000

2. Upah Rp. 300.000

3. Umum (gaji karyawan.listrik,dll) Rp. 200.000

I. Total Rp.1.000.000

II. Biaya Handling Rp. 300.000

Rp.1.300.000

II. Pajak/pungutan 0

III. Biaya lain Rp. 200.000

Rp.1.500.000

IV. Laba 10% Rp. 150.000

Harga Jual Rp. 1.650.000

Penentuan Harga Jual Ekspor

a) Cost plus Mark up (Seller’s Market Price)

b) Current Market Price (Buyer’s Market Price)

c) Subsidized Price

d) Dumping (Market Penetration Price)

a. Cost plus Mark up

Harga Jual untuk ekspor ditetapkan atas dasar : Harga pokok + Profit =HJ

Contoh : Biaya Pengadaan Rp 10.000

Biaya pengelolaan Rp 2.000

Pungutan Rp 1.000

Jasa pihak ketiga Rp 500

Total biaya (cost) Rp 13.500

Profit 10 % Rp 1.350

Harga Jaul Ekspor (HJ) Rp 14.850

b. Current Market Price

Harga Jual (HJ) untuk ekspor ditetapkan atas dasar kesediaan pembeli sesuai dengan catatan Harga Internasional yang berlaku di bursa komoditi Internasional (buyer’s market)

Contoh :

Buyers hanya bersedia membeli karet Sheet I dengan harga CIF New York US$ Cent 125/kilogram .Premi asuransi misalnya 5 cent dollar. Freight Jakarta-New York 20 cent dollar perkilogram.Pungutan ekspor nihil (0,00 cent dollar). Harga karet Sheet I dengan penyerahan FOB Tj.Priok Jakarta pada saat itu Rp 1.500 per kilogram. Kurs US dollar terhadaprupiah adalah US$ 100 cent = Rp 2.000

Hitunglah berapa Rugi/Laba Eksportir dengan kondisi di atas!

Jawab:

Buyer’s Price US Dollar cent CIF New York 125

Premi Asuransi I 5

C&F New York 120

Freight Jakarta-New York F 20

Cost (FOB) Jkt 100

Pungutan Ekspor 0

Harga FOB Tj.Priok-Jakarta US $ Cent 100 = Rp 2.000

Harga Karet Sheet I FOB Tj.Priok-Jakarta Rp 1.500

Laba Eksportir Rp 500

Harga jual pada kondisi buyer’s market ini, kita sebut dengan Pola Retrograde (dihitung mundur)

c. Subsidized Price

Harga Jual (HJ) untuk ekspor didasarkan pada :

Harga Pokok- Subsidi = HJ

Subsidi seperti penghapusan Overhead, pengembalian bea masuk bahan baku ex-ompor, atau pembebasan bea masuk di negara tujuan seperti Generalized System of Preference (GSP)

Contoh : barang-barang di Jepang dijual ke luar negeri lebih murah karena beban fixed cost menjadi beban pasar dalam negerinya.

d. Dumping

Harga dumping adalah harga jual ekspor ditetapkan lebih rendah dari harga jual komoditi yang sama untuk Pasar Dalam Negeri. Dalam praktek, hal ini dimungkinkan bila di dalam negeri produsen komoditi itu memegang monopoli, sehingga dapat menjual komoditi itu dengan harga tinggi di dalam negeri dan harga yang wajar untuk pasar di luar negeri.

Premi Asuransi

1. Tujuan asuransi : mengalihkan risiko kerugian dari importir kepada perusahaan asuransi.

2. Ditentukan oleh 2 hal : besarnya nilai pertanggungan dan risiko pertanggungan.

3. Nilai pertanggungan : 100 % dari nilai FOB, 100% dari nilai CFR, 100 % dari CIF.

4. Risiko Pertanggungan : TLO, All Risk

Contoh :

Suatu barang dengan nilai FOB US $80,000 dan CFR US$ 97,500, sedangkan premi asuransi 2,5%. Hitunglah jumlah premi yang harus dibayar bila nilai pertasnggungan sebesar 100% dari nilai FOB, 100% dari nilai CFR, 100% dari nilai CIF

Jawab:

Nilai pertanggungan FOB US $ 80,000

Jumlah premi 2,5% x US $ 80,000= US $ 2000

Nilai pertanggungam CFR US $ 97,500

Jumlah premi 2,5% x US$ 97,500 = US $ 2,437.50

Nilai CIF diumpamakan 100x, dibentuk persamaan sbb:

CIF = CFR + premi asuransi

100x = 97,500 + 2,5 x

100x-2,5x = 97,500

x = 97,500 : 97,5

Jumlah Premi :

x = 1000 2.5 x = 2,5 x US $1000 = US $ 2500

Komponen biaya impor

1. Biaya perolehan (beli devisa, bea masuk)

2. Premi asuransi

3. Pungutan-pungutan (PPN, PPN barang mewah, PPh 22)

4. Biaya Inklaring

5. Biaya jasa lainnya

Penjumlahan dari semua biaya yang kita keluarkan untuk bisa memperoleh barang yang diinginkan sampai dengan barang tersebut dikeluarkan dari pelabuhan

Beli devisa (nilai lawan valuta) :

harga beli barang impor dalam valuta dikalikan dengan kurs jual devisa yang berlaku pada saat pembukaan L/C untuk memperoleh harga beli dalam rupiah

Contoh :

harga beli CFR barang US$ 50,000

kurs jual pembukaan L/C Rp. 8000 / US$

nilai lawan valuta = 50.000 x Rp. 8000 = Rp. 400.000.000

Pungutan negara

Contoh :

Suatu barang senilai CFR US$ 10,000 dipungut bea dan pajak sbb :

a. Bea masuk (BM) = 5% c. PPh pasal 22 = 2,5%

b. PPN impor (PPN) = 10% d. Kurs NDPB = Rp. 7750/US$

a. Bea masuk

5% x (10.000 x Rp. 7750) = Rp. 3.875.000

b. PPN impor

10% x [ (10.000 x Rp. 7750) + 3.875.000 ]

= 10% x (77.500.000 + 3.875.000)

= Rp. 8.137.500

c. PPh pasal 22

2,5% x [ (10.000 x Rp. 7750) + Rp. 3.875.000 ]

= 2,5% x (81.375.000) = Rp. 2.034.375

Jumlah terhutang :

a. BM = 3.875.000

b. PPN = 8.137.500

c. PPh pasal 22 = 2.034.375

Total = 14.046.875

Daftar Pustaka :


  1. Amir M.s, strategi PemasaranE kpon pr. pustakaB inamanp ressin Jakarta2,000
  2. KontrakD agangE kpor, pr. pustakaB inamanp ressindoJ,a karta, 1999
  3. Letter of credit Dalam Bisnis Ekpor Impor, pr. pustaka Binaman PressindJoa, karta1, 996
  4. Ary s. wahyuni,s trategip enerobosapna sar,M odulp elatihanM anajemen
  5. EkspoIrm por,P endidikadna n pelatihanE kspoIrn donesia(p pEI),J akarta,2000


PEMERIKSAAN BARANG EKSPOR

PEMERIKSAAN BARANG EKSPOR

Maret 9rd, 2012 by IBENU K.A

Latar Belakang :

Penjual dan Pembeli dipisahkan oleh jarak, batas Negara serta peraturan-peraturan yang menaungi mekanisme perdagangannya tidak sama.

Penjual maupun pembeli tidak langsung melihat benda/barang yang akan dipertukarkan

 Diperlukan pihak yang netral untuk menjembatani kepentingan berbagai pihak

Peran tersebut dilasankan oleh : CARGO SURVEYOR

Salah satu Produk Surveyor tersebut adalah : LAPORAN PEMERIKSAAN SURVEYOR EKSPOR (LPSE)

PENGENALAN KEGIATAN SURVEYOR

Pengertian survey (SK. Men. Perd. Dan Koperasi)
Suatu Kegiatan pemeriksaan, penelitian, pengkajian, pengujian dan pengawasan atas suatu objek yang ditentukan (Barang muatan  Survey barang/cargo survey) dan meliputi :
1. Kondisi luar
2. Pembungkus atau kemasan
3. mutu
4. jumlah
5. ukura-ukuran panjang
6. berat maupun isi, dan
7. tanda-tanda pengenal serta
8. persyaratan-persyaratan yang ditetapkan,
yang atas hasil kegiatan tersebut diatas dibuktikan dengan mengeluarkan laporan survey (survey report) dan atau sertifikat pengawasan (inspection certificate).


PENGELOMPOKAN BARANG EKSPOR

Berdasarkan Kep. Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 288/MPP/Kep/7/1997 tgl 4 Juli 1997 tentang Ketentuan Umum di bidang ekspor jo SK Memperindag No. 97/Menperindag No.97/MPP/Kep/II/98, komoditi ekspor Indonesia dikelompokkan menjadi :

1. Barang yang diatur tata niaga ekspornya, yaitu : barang yang ekspornya hanya dapat dilakukan oleh EKSPORTIR TERDAFTAR.
Eksportir terdaftar adalah perusahaan atau perorangan yang telah mendapat pengakuan (approved exporter) dari Depperindag RI untuk mengekspor barang tertentu sesuai dengan yang berlaku :
Barang yang diatur tata niaga ekspornya meliputi :
a. Tekstil dan produk tekstil (TPT) khusus untuk ekspor dengan tujuan ke Negara kuota
b. Lampit rotan
c. Kayu gergajian dan kayu olahan
d. Barang hasil industri dan kerajinan dari kayu cendana
e. Kopi
f. Maniok, khusus untuk tujuan Negara anggota Masyarakat Ekonomi Eropa

2. Barang yang diawasi ekspornya
Barang yang ekspornya hanya dapat dilakukan dengan persetujuan menteri Perindustrian dan Perdagangan atau pejabat yang ditunjuk.
Barang yang diawasi ekspornya meliputi :
1. Kacang edelai pecah atau utuh
2. Padi dan beras
3. Tepung Gandum atau maslin
4. tepung beras
5. tepung lannya selain beras, tepung jagung dan tepung gandum hitam
6. tepung halus dan tepung kasar dari kedelai
7. Gula tebu atau bit dan sukrosa murni kimiawi (dalam bentuk padat)
8. ternak hidup : sapid an kerbau
9. Binatang liar dan tumbuhan alam yang dilindungi secara terbatas
10. jenis hasil perikanan dalam keadaan hidup
11. Pupuk urea
12. emas
13. perak
14. minyak dan gas bumi
15. timah
16. limbah skrap dari : baja, stainless, tembaga, kuningan

3. Barang yang dilarang ekspornya, yaitu :
Barang yang tidak boleh diekspor, pertimbangannya anataralain :

1. agar komoditas tersebut dapat diproses menjadi barang setengah jadi atau barang jadi untuk meningkatkan nilai tambahnya di dalam negeri
2. menjaga pengadaan bahan baku meliputi : alam/hutan, melindungi jenis tanaman dan binatang langka
Barang yang dilarang eksprnya meliputi :

a. Jenis hasil perikanan hidup : arwana jenis tertentu, benih ikan sidat di bawah ukuran 5 mm, ikan hias air tawar jenis tertentu ukuran 15 cm ke atas, udang galah (udang air tawar) di bawah ukuran 8 cm, udang panaeidae (induk) dan calon induk.
b. Binatang liar dan tumbuhan alam yang dilindungi secara mutlak
c. Kulit mentah binatang melata/reptile
d. Karet bongkah/karet spesifikasi teknis yang memenuhi standar mutu
e. Limbah dan skrap fero, hasil peleburan skrap besi/baja


KEPABEANAN

Kepabeanan : Segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu lintas barang yang masuk atau keluar Daerah Pabean dan pemungutan bea masuk.

Daerah Pabean : Wilayah RI yg meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara
diatasnya, serta tempat-tempat tertentu di ZEE.

Kawasan Pabean : Kawasan dengan batas-batas tertentu di pelabuhan laut, Bandar
udara, atau tempat lain yang ditetapkan untuk lalu lintas barang, yg
sepenuhnya berada di bawah pengawasan Direktorat Jendral Bea
Cukai (DJBC)

Bea Masuk : Pungutan Negara berdasarkan undang-undang, ini yang dikenakan
terhadap barang yang diimpor.

Tempat Penimbunan Sementara :
Bangunan dan/atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan
itu di Kawasan Pabean untuk menimbun barang sementara menunggu
pengeluarannya.

Tempat Penimbunan Pabean :
Bangunan dan atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan
itu yang disediakan oleh pemerintah di kantor pabean yg berada di
bawah pengelolaan DJBC untuk menyimpan barang yg dinyatakan
tidak dikuasai, barang yg dikuasai Negara.

PEMERIKSAAN FISIK OLEH BEA CUKAI dalam hal :

 Berdasarkan petunjuk yang kuat akan terjadi pelanggaran atau telah terjadi pelanggaran ketentuan di bidang ekspor (NHI/NI)
 Akan dimasukkan kembali ke dalam Daerah Pabean (re-impor)
 Berdasarkan informasi dari Direktorat Jendral Pajak terdapat petunjuk yang kuat akan terjadinya pelanggaran.
 Pemeriksaan oleh surveyor yang ditunjuk pemerintah

PRINSIP DASAR UU KEPABEANAN
• Terhadap barang impor dilakukan pemeriksaan pabean
• Barang yang telah dimuat/akan dimuat di sarana pengangkut untuk dikeluarkan dari daerah pabean dianggap telah diekspor dan diperlakukan sebagai barang ekspor
• Diberlakukannya system menghitung dan membayar sendiri bea masuk yang terutang (self assessment)
• Terhadap barang ekspor dilaukan penelitian dokumen dalam hal tertentu dapat dilakukan pemeriksaan fisik
• Dimungkinkannya penyerahan pemberitahuan melalui media elektronik
• Dilaksanakannya pemeriksaan fisik barang secara selektif (jalur hijau, jalur merah)
• Dilasanakannya audit di bidang kepabeanan terhadap pembukuan perusahaan dan sediaan sebagai titik berat pengawasan dan pengamanan impor/ekspor
• Apabila batal ekspor, pembatalannya harus dilaporkan. Apabila tidak dilaporkan dikenakan denda administrasi Rp. 5.000.000
• Apabila salah memberitahukan jenis barang/jumlah untuk ekspor denda min 1 juta max 10 juta rupiah
• Bagi pengangkut : tidak/terlambat mengajukan outward manifest, denda Rp. 5.000.000

PENGENAAN JALUR MERAH DISEBABKAN OLEH :
 Penetapan oleh computer secara acak (random)
 Adanya Nota Hasil Intelejen (NHI)
 Adanya Nota Informasi (NI)

KALKULASI BIAYA EKSPOR
1. Biaya Produksi (sebagai produsen), nilai Beli Barang (sebagai traders)
2. Handling charges (Biaya Penanganan)
3. Pungutan Negara (Pajak Ekspor/Pajak ekspor Tambahan)
4. Lain-lain : Biaya bunga Bank, Surveyor fee, sertifikasi

Penentuan Harga Jual ekspor
1. Cost Plus Mark Up (seller’s Market Price)
 Harga Jual untuk Ekspor ditetapkan atas Dasar : Harga Pokok + Profit = Harga Jual
2. Current Market Price (Buyer’s Market Price)
Harga Jual untuk Ekspor ditetapkan atas dasar kesediaan pembeli sesuai dengan catatan Harga Internasional yang berlaku di bursa komoditi Internasional (buyer’s market)
3. Subsidized Price
 Harga Jual (HJ) untuk ekspor didasarkan pada : Harga Pokok – Subsidi = HJ
Subsidi seperti : penghapusan overhead (biaya tidak langsung), pengembalian bea masuk bahan baku ex-impor, atau pembebasan bea masuk di Negara tujuan seperti Generalization System of Preference (GSP). Contoh Barang-barang di Jepang dijual ke luar negeri lebih murah karena beban fixed costnya menjadi beban pasar dalam negeri.
4. Dumping (Market Penetration Price)
 Harga dumping adalah harga jual ekspor ditetapkan lebih rendah dari harga jual komoditi yang sama untuk Pasar Dalam Negeri. Dalam praktek, hal ini dimungkinkan bila di dalam negeri produsen komoditi ini memegang monopoli, sehingga dapat menjual komoditi itu dengan harga tinggi di dalam negeri dan harga wajar untuk pasar luar negeri.

PREMI ASURANSI
 Tujuan asuransi : mengalihkan risiko kerugian dari importir kepada perusahaan asuransi
 Ditentukan oleh 2 hal : * besarnya nilai pertanggungan (100% dari nilai FOB/CFR/CIF)
* risiko pertanggungan (Total Loss, All Risk, dll)

DAFTAR PUSTAKA

1. Amir M.s, strategi PemasaranE kpon pr. pustakaB inamanp ressindo, Jakarta2,0 00
2. KontrakD agangE kpor, pr. pustakaB inamanp ressindoJ,akarta, 1999
3. Letter of credit Dalam Bisnis Ekpor Impor, pr. pustaka Binaman PressindJoa, karta1, 996
4. Ary s. wahyuni,s trategip enerobosapna sar,M odulp elatihanM anajemen
EkspoIrm por,P endidikadna n pelatihanE kspoIrn donesia(p pEI),J akarta, 2000
5. HargoU tomoM, anajemepne masaranG,u nadarmJaa, karta1993
6. JarmansyahJu suf, KontrakD agang,M odul pelatihanM anajemenE kspor
Impor,P endidikadna nP elatihaEnk spoIrn donesi(ap pEI)J, akarta2,000

Minggu, 23 Oktober 2011

ANALISIS PERLUNYA PERUSAHAAN MEMBUAT SEGMENTASI PASAR, DAN DEMOGRAFI DARI SEGMENTASI TERSEBUT

ANALISIS PERLUNYA PERUSAHAAN MEMBUAT SEGMENTASI PASAR, DAN DEMOGRAFI DARI SEGMENTASI TERSEBUT
October 12rd, 2011 by IBENU K..A

Abstrak
Pasar terdiri dari banyak pembeli, dan pembeli berbeda dalam banyak hal baik dalam motif, perilaku, maupun kebiasaan pembelian. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pasar suatu produk tidak homogen, tetapi heterogen. Hal inilah yang mendorong perusahaan melakukan segmentasi pasar. Segmentasi merupakan pengelompokan pembeli dalam suatu pasar yang memiliki kebutuhan dan tingkah laku yang sama.

A. Latar Belakang Masalah
Latar belakang pentingnya segmentasi bagi perusahaan disebabkan antara lain karena segmentasi memungkinkan perusahaan lebih terfokus dalam mengalokasi sumber daya. Kedua, segmentasi merupakan basis untuk menentukan komponen-komponen strategi, taktik dan value secara keseluruhan. Segmentasi yang disertai dengan pemilihan target market akan memberikan suatu acuan dan basis bagi penentuan positioning. Ketiga segmentasi merupakan faktor kunci untuk mengalahkan pesaing,
Renald Kasali mengatakan bahwa segmentasi merupakan proses mengkotak-kotakkan pasar (yang heterogen) ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki kesamaan kebutuhan atau kesamaan karakter yang memiliki respon yang sama dalam membelanjakan uangnya.
B. Rumusan Masalah
Mengenal Perusahaan yang cermat akan menggunakan beberapa faktor lebih banyak untuk menanggapi suatu pilihan dalam suatu putusan membuat segmentasi pasar, lalu akan mengambil suatu langkah konkret yaitu dengan membedakan produk atau bahkan menciptakan produk baru. Maka, perusahaan sedikitnya harus mengetahui proses membagi pasar ke dalam segmen-segmen pelanggan potensial dengan kesamaan karakteristik yang menunjukkan adanya kesamaan perilaku pembeli dan sebagai suatu proses pembagian pasar keseluruhan menjadi kelompok–kelompok pasar yang terdiri dari orang–orang yang secara relatif memiliki kebutuhan produk yang serupa.
C. Tujuan
Tulisan ini diharapkan mampu memberikan informasi yang akurat mengenai tujuan guna memenuhi tugas mata kuliah Perilaku Konsumen sebagaimana makalah ini adalah tugas Segmentasi Pasar. Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah tersebut, makalah segmentasi pasar ini juga kami maksudkan untuk memberi sedikit pengetahuan kepada kerabat dan teman-teman di sekitar tentang Perilaku Konsumen.
D.Pembahasan
1. Pengertian Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah pembagian suatu pasar yang heterogen kedalam satuan-satuan pembeli yang homogen, dimana kepada setiap satuan pembeli yang homogen tersebut dijadikan sasaran pasar yang dicapai dengan marketing mix tersendiri. Dengan demikian yang semula pasarnya satu dan luas,kemudian dibagi-bagi atau disegmentasi oleh pemasar menjadi beberapa bagian pasar yang sifatnya homogen. Homogenitas pasar tersebut dicari dan ditentukan sendiri oleh pihak pemasar.
2. Dasar – Dasar Segmentasi
Variabel-variabel yang berbeda dipergunakan untuk membentuk segmen pasar konumen. Variabel-variabel tersebut dikelompokkan menjadi dua kelompok besar. Beberapa peneliti mencoba membentuk segmen dengan melihat pada karakteistik/sifat konsumen. Pada umumnya mereka menggunakan segmen demografis, geografis dan psikografis. Kemudian mereka menguji apakah konsumen ini menunjukkan respon produk atau kebutuhan yang berbeda? Sebagai contoh mereka mungkin menguji perbedaan sikap dari para professional kerah baju (blue collars), dan kelompok lain dengan mengatakan : keselamatan (safety) sebagai manfaat mobil.
Begitu segmen dibentuk peneliti melihat apakah perbedaan karakteristik konsumen terkait dengan respon konsumen pada setiap segmen.
Untuk mengadakan segmentasi pasar dapat ditempuh dengan beberapa cara yang berbeda. Metode tersebut juga dapat berbeda antara suatu produk ke produk lainnya. Salah satu cara dalam mengadakan segmentasi pasar adalah dengan membagi segmen pasar berdasarkan sembilan kategori berikut :

A. Geografi

Segmentasi ini membagi pasar menjadi unit-unit geografi yang berbeda, seperti negara, propinsi, kabupaten, kota, wilayah, daerah atau kawasan. Jadi dengan segmentasi ini, pemasar memperoleh kepastian kemana atau dimana produk ini harus dipasarkan.
B. Demografi
Segmentasi ini memberikan gambaran bagi pemasar kepada siapa produk ini harus ditawarkan. Jawaban atas pertanyaan kepada siapa dapat berkonotasi pada umur, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, siklus kehidupan keluarga seperti anak-anak, remaja, dewasa, kawin/ belum kawin, keluarga muda dengan satu anak, keluarga dengan dua anak, keluarga yang anak-anaknya sudah bekerja dan seterusnya. Dapat pula berkonotasi pada tingkat penghasilan, pendidikan, jenis pekerjaan, pengalaman, agama dan keturunan misalnya: Jawa, Madura, Bali, Manado, Cina dan sebagainya.

C. Psikografi

Ciri-ciri psikologis berkenaan dengan inner atau kualitas intrinsic dari consumer individual. Strategi segmentasi konsumen kadang-kadang didasarkan pada variabel psikologis yang spesifik. Konsumen dapat dibagi menurut demografi tetapi seringkali ini tidaklah cukup. Perusahaan ingin tahu lebih jauh apa sebenarnya yang membuat orang-orang yang memiliki usia, penghasilan, pendapatan dan pendidikan yang sama berbeda dalam merespon suatu stimuli pemasaran. Dalam segmentasi psikografis, perilaku konsumen diobservasi melalui kelas sosial (social class), gaya hidup (lifestyle), nilai-nilai kehidupan yang dianut (value) dan kepribadian (personality).
D. Sosiocultural
Variabel sosiologis (kelompok) dan antropologis (budaya) merupakan variabel sosiokultural, meyediakan dasar lebih lanjut untuk segmentasi pasar. Untuk segmen pasar yang sukses dibagi lagi dalam segmen sesuai dengan tahap pada :
a. Daur hidup keluarga
b. Kelas sosial
c. Budaya dan sub budaya dan
d. Lintas budaya atau segmentasi pemasaran global
E. Segmen Hubungan Menggunakan Cara Ekstrim
Sebuah cara ekstrim yang popular dan bentuk efektif segmentasi untuk kategori penggunaan merek, seperti :
a. Tingkat penggunaan : perbedaan segmentasi antara pengguna berat, pengguna sedang, pengguna ringan dan bukan pengguna untuk sebuah produk, jasa atau merek khusus
b. Tingkat kesadaran : kesadaran konsumen pada produk, tingkat ketertarikan pada produk, kesiapan membeli produk atau apakah konsumen butuh informasi tentang produk menyangkut semua aspek kesadaran
c. Loyalitas merek : kadang-kadang digunakan sebagai dasar untuk segmentasi. Pemasar kadang mencoba untuk mengidentifikasikan karakteristik konsumen yang loyal merek tentu mereka bisa langsung menjadi pendukung promosi mereka ke orang dengan karakteristik yang sama dalam populasi yang lebih besar.
F. Segmen Situasi Penggunaan
Pemasar mengenal bahwa kesempatan atau situasi kadang-kadang menentukan apakah konsumen akan membeli atau mengkonsumsi. Untuk alasan ini mereka kadang-kadang focus pada situasi penggunaan sebagai sebuah variabel segmentasi. Segmentasi berdasarkan kesempatan dapat membantu perusahaan memperluas penggunaan produk.
G. Segmen Benefit
Bentuk segmentasi yang kuat adalah dengan mengklasifikasikan pembeli sesuai dengan manfaat berbeda yang mereka cari dari produk. Eksekutif pemasaran dan periklanan secara konstan mencoba mengidentifikasikan sebuah keuntungan paling penting dari produk atau jasa yang akan menjadi sangat berarti bagi consumer. Sebuah studi yang meguji apakah yang mengendalikan preferensi konsumen terhadap micro atau craftbeer, terindenfikasi lima kenutungan strategic brand yaitu :
a. Fungsional (contoh kualitas)
b. Nilai uang
c. Manfaat sosial
d. Manfaat emosi positif
e. Manfaat emosi negative
Segmentasi benefit bisa juga digunakan untuk bermacam-macam posisi merek dalam kategori produk yang sama.
H. Segmen Hybrid
Pemasar secara umum membentuk segmen pasar dengan kombinasi beberapa variabel segmen berdasarkan sebuah segmen tunggal. Segmen geodemografis, adalah sangat berguna bagi ketika sesesorang pengiklan atau pemasar menemukan prospek terbaik (kepribadian, tujuan dan ketertarikan) bisa diisolasi di mana mereka hidup. Segmen lintasbudaya & global marketing merupakan segmen geodemografis.
I. Segmentasi Tingkah Laku
Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar yakin bahwa variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar.

E. Tingkatan Segmentasi Pasar
1. Pemasaran Massal, yaitu memproduksi secara massal mendistribusikan secara massal, dan mempromosikan secara massal produk yang hampir sama dengan cara yang hampir sama kepada semua konsumen.
2. Pemasaran Segmen, Memisahkan segmen-segmen yang membentuk suatu pasar dan mengadaptasi tawarannya supaya sesuai dengan kebutuhan satu atau lebih segmen tersebut.
3. Pemasaran Relung, Memfokuskan diri pada subsegmen atau relung pasar yang memiliki sejumlah cirri bawaan yang khas yang mungkin mencari kombinasi sejumlah manfaat yang khusus.
4. Pemasaran Mikro, Praktek perancangan produk dan program pemasaran supaya sesuai benar dengan selera individu dan lokasi yang spesifik yang meliputi pemasaran lokal dan pemasaran individual.
• Pemasaran Lokal, Perancangan merk dan promosi supaya sesuai benar dengan kebutuhan dan keinginan kelompok-kelompok pelanggan local --- kota, pemukiman, bahkan took yang spesifik.
• Pemasaran Individual, Perancangan produk dan program pemasaran supaya sesuai benar dengan kebutuhan dan preferrensi pelanggan secara individual. Juga dinamakan pemasaran satu per satu ( one to one marketing ), pemasaran yang disesuaikan dengan ( customized marketing )kebutuhan dan pemasaran pasar yang terdiri dari satu orang ( market of one marketing ).
F. Manfaat dan Kelemahan Segmentasi
Banyaknya perusahaan yang melakukan segmentasi pasar atas dasar pengelompokkan variabel tertentu. Dengan menggolongkan atau mensegmentasikan pasar seperti itu, dapat dikatakan bahwa secara umum perusahaan mempunyai motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan dan yang lebih penting lagi agar operasi perusahaan dalam jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif (Porter, 1991). Manfaat yang lain dengan dilakukannya segmentasi pasar, antara lain:
1. Perusahaan akan dapat mendeteksi secara dini dan tepat mengenai kecenderungan-kecenderungan dalam pasar yang senantiasa berubah.
2. Dapat mendesign produk yang benar-benar sesuai dengan permintaan pasar.
3. Dapat menentukan kampanye dan periklanan yang paling efektif.
4. Dapat mengarahkan dana promosi yang tersedia melalui media yang tepat bagi segmen yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
5. Dapat digunakan untuk mengukur usaha promosi sesuai dengan masa atau periode-periode dimana reaksi pasar cukup besar.

Sekalipun tindakan segmentasi memiliki sederetan keuntungan dan manfaat, namun juga mengandung sejumlah resiko yang sekaligus merupakan kelemahan-kelemahan dari tindakan segmentasi itu sendiri, antara lain:
1. Biaya produksi akan lebih tinggi, karena jangka waktu proses produksi lebih pendek.
2. Biaya penelitian/ riset pasar akan bertambah searah dengan banyaknya ragam dan macam segmen pasar yang ditetapkan.
3. Biaya promosi akan menjadi lebih tinggi, ketika sejumlah media tidak menyediakan diskon.
4. Kemungkinan akan menghadapi pesaing yang membidik segmen serupa.
Bahkan mungkin akan terjadi persaingan yang tidak sehat, misalnya kanibalisme sesama produsen untuk produk dan segmen yang sama.
G. Segmen-segmen Profitabilitas Pelanggan
Perusahaan-perusahaan kemungkinan mau memperlakukan semua pelanggan dengan pelayanan unggul, tetapi mereka pada umumnya menemukan bahwa pelanggan berbeda dalam nilai hubungan mereka dan bahwa mungkin tidak secara praktis menguntungkan ataupun memenuhi (dan pasti tidak melebihi) semua harapan pelanggan. Daripada memperlakukan semua pelanggan dengan sama, perusahaan lebih baik memberikan perhatian khusus meningkatkan hubungan mereka dengan pelanggan yang baik, dan berusaha menjadikan yang jelek menjadi baik. Pendekatan ini berjalan melebihi segmentasi pemakaian atau volume karena pendekatan ini mengikuti biaya dan pendapatan untuk segmen-segmen pelanggan, dengan demikian menangkap nilai finansial untuk perusahaan. Setelah mengidentifikasi berkas profitabilitas, perusahaan menawarkan pelayanan dan tingkat pelayanan sejalan dengan segmen-segmen yang teridentifikasi.

H. Deretan Bertingkat Profitabilitas―Piramida Pelanggan
Penamaan deskriptif dari deretan bertingkat bisa sangat bermanfaat untuk perusahan itu sendiri. Penamaan akan bernilai secara khusus jika membantu perusahaan tetap di jalur di mana pelanggan bisa menguntungkan.
Hampir semua perusahaan sadar bahwa pada beberapa tingkatan pelanggan mereka berbeda dalam profitabilitas, khususnya, suatu minoritas dari akun pelanggan mereka adalah untuk proporsi tertinggi dari penjualan atau keuntungan. Penemuan ini seringkali disebut disebut sebagai “kaidah 80/20”—yaitu 20% dari para pelanggan menghasilkan 80% penjualan atau keuntungan.
Dalam versi deretan bertingkat ini, 20% pelanggan tersebut merupakan para pelanggan strata paling atas, yaitu mereka yang bisa dikenal sebagai yang paling menguntungkan dalam perusahaan. Sisa yang lainnya tak dapat dibedakan satu sama lain, namun berbeda dengan para strata tertinggi dalam hal keuntungan. Kebanyakan perusahaan menyadari bahwa terdapat perbedaan diantara para pelanggan dalam deretan bertingkat ini, tapi tidak memiliki data atau kemampuan untuk menganalisa perbedaannya. Skema 80/20 dua-deretan bertingkat, mengasumsikan bahwa para pelanggan dalam dua deretan bertingkat adalah sama, seperti halnya pada skema segmentasi pasar pada umumnya, secara khas di asumsikan bahwa para pelanggan di dalam segmen-segmen adalah sama.
I. Wawasan Strategi
Satu hal yang relatif jelas nyata, tetapi seringkali dilupakan, cara bagi perusahaan memperlihatkan bahwa menghargai pelanggan mereka adalah dengan menunjukkan apresiasi kepada pelanggan mereka terhadap bisnis mereka.
Menunjukkan apresiasi secara khusus penting dalam situasi “business-to-business”, karena pelanggan akan menyukai penyuplai jika mereka mengucapkan apresiasi mereka baik secara individu atau melalui telepon dan tidak hanya agar bisnis mereka diterima. Kebanyakan perusahaan memiliki rencana usaha; jika pelanggan memang merupakan aset penting bagi perusahaan, maka mungkin sebuah rencana mengapresiasi pelanggan juga dibutuhkan. Perusahaan yang mengerti akan nilai hubungan pelanggan seharusnya tidak akan kesulitan menunjukkan kepada pelanggan bahwa mereka memang berharga.
Bagaimanapun, ada lebih dari dua deretan bertingkat yang mungkin dan dapat digunakan jika perusahaan memiliki data yang cukup untuk menganalisis deretan bertingkat pelanggan secara lebih tepat. Sistem-sistem dan penamaan yang berbeda bisa sangat membantu. Berikut salah satu sistem empat-tingkat dereten bertingkat yang berguna:
1. Tingkat Platinum menggambarkan pelanggan yang paling menguntungkan bagi perusahaan, cirinya adalah pengguna berat produk, tidak terlalu peka terhadap harga, yang mau menanam modal dan mencoba penawaran baru, dan pelanggan yang merasa terikat dengan perusahaan.
2. Tingkat Emas berbeda dari tingkat platinum, tingkat profitabilitas tidak tinggi, mungkin karena pelanggan mau potongan harga yang membatasi keuntungan atau tidak begitu setia. Mereka mungkin pengguna berat yang meminimalisasi risiko dengan bekerja dengan banyak penjaja dariapada hanya dengan perusahaan besar.
3. Tingkat Besi berisi pelanggan penting yang menyediakan volume yang di

J. Kesimpulan
Banyaknya perusahaan yang melakukan segmentasi pasar atas dasar pengelompokkan variabel tertentu. Dengan menggolongkan atau mensegmentasikan pasar seperti itu, dapat dikatakan bahwa secara umum perusahaan mempunyai motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan dan yang lebih penting lagi agar operasi perusahaan dalam jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif (Porter, 1991).

Manfaat yang lain dengan dilakukannya segmentasi pasar, antara lain:
1. Perusahaan akan dapat mendeteksi secara dini dan tepat mengenai kecenderungan-kecenderungan dalam pasar yang senantiasa berubah.
2. Dapat mendesign produk yang benar-benar sesuai dengan permintaan pasar.
3. Dapat menentukan kampanye dan periklanan yang paling efektif.
4. Dapat mengarahkan dana promosi yang tersedia melalui media yang tepat bagi segmen yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
5. Dapat digunakan untuk mengukur usaha promosi sesuai dengan masa atau periode-periode dimana reaksi pasar cukup besar.

Gitosudarmo (2000) menambahkan manfaat segmentasi pasar ini, sebagai berikut:
1. Dapat membedakan antara segmen yang satu dengan segmen lainnya.
2. Dapat digunakan untuk mengetahui sifat masing-masing segmen.
3. Dapat digunakan untuk mencari segmen mana yang potensinya paling besar.
4. Dapat digunakan untuk memilih segmen mana yang akan dijadikan pasar sasaran.
K. Daftar Pustaka
1. Aaker, D.A and G.S Day (1990), Marketing Research, 4rd ed. New York: John Wiley&Sons, Inc.
2. http://belajar-management.blogspot.com/2010/01/memusatkan-strategi-pemasaran.html
3. http://bisnisukm.com/apa-itu-segmentasi-pasar.html
4. http://blog.uad.ac.id/sulisworo/2009/05/06/segmentasi-yang-efektif/
5. http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1990261-pentingnya-segmentasi-pasar/
6. http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/segmentasi-pasar-definisi-manfaat-dan.html
7. http://taufiqisnaini.wordpress.com/2010/11/09/segmentasi-pasar-bisnis/
8. http://www.kesimpulan.com/2009/04/segmentasi-pasar.html
9. http://www.tempo.co.id/medika/online/tmp.online.old/lap-1.html
10. http://zetzu.blogspot.com/2010/10/analisis-profitabilitas.html

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN SUATU PRODUK

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN SUATU PRODUK
October 9rd, 2011 by IBENU K..A

Abstrak
Proses pengambilan keputusan yang rumit sering melibatkan beberapa keputusan. Suatu keputusan (decision) melibatkan pilihan di antara dua atau lebih alternatif tindakan (atau perilaku). Keputusan selalu mensyaratkan pilihan di antara beberapa perilaku yang berbeda.pada intinya dalam pengambilan keputusan biasanya konsumen akan memperhatikan beberapa hal yang penting antara lain seperti budaya, sosial, keluarga, pribadi, psikologi. Dengan pertimbangan diatas, berulah seorang konsumen akan mengambil tindakan sebagai suatu keputusan pembelian terhadap suatu produk yang diinginkan. Dengan adanya faktor-faktor tersebut biasanya konsumen akan menitik beratkan pada faktor budaya yang terkini. Selain dari gaya hidup, faktor tersebut merupakan adanya kemajuan perilaku konsumen yang termobilisasi terhadap produk yang diinginkan. Dengan faktor dominan ini, maka produk yang ditawarkan oleh produsen akan semakin meningkat seiring perkembangan zaman.
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan zaman saat ini menuntut konsumen bersikap pintar, cermat, efisien dan efektif dalam memilih produk yang diinginkan. Dengan meningkatnya permintaan konsumen dari berbagai produk, maka produsen berusaha akan memenuhi kebutuhan yang konsumen inginkan. Dengan itu, produsen menciptakan berbagai produk yang bervariatif serta barbagai pilihan produk itu sendiri. Bahkan produsen akan menciptakan produk yang sebelumnya belum pernah dibutuhkan oleh konsumen. Inovasi-inovasi inilah yang menjadi dilema bagi konsumen, apakah mereka akan mengambil keputusan berdasarkan keinginan atau kebutuhan. Maka, konsumen akan melihat faktor-faktor apakah yang cocok bagi mereka, sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang tepat dan bermanfaat bagi kehidupannya.
B. Rumusan Masalah
Mengenal perilaku Konsumen yang cermat akan menggunakan beberapa faktor lebih banyak untuk menanggapi suatu pilihan dalam suatu putusan, lalu akan mengambil suatu langkah konkret yaitu dengan membeli produk yang diinginkan. Maka, konsumen sedikitnya harus mengetahui jenis produk yang akan ia beli antara perbandingan dari merk dagang yang lain. Mulai dari perbandingan harga, kemasan, mutu produk, tanggal kadaluarsa, rasa dan warna, kegunaan produk, berat netto, kandungan nutrisi.
C. Tujuan
Tulisan ini diharapkan mampu memberikan informasi yang akurat mengenai keputusan konsumen terhadap suatu produk. Agar konsumen dituntut mengambil keputusan yang pintar, cermat, efisien dan efektif dalam rangka pemenuhan kebutuhan serta keinginan pada diri pribadi.
Alasan mempelajari perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan suatu produk antara lain :

1. Analisis ini akan membantu para manajer untuk :
a. Mendesain bauran pemasaran,
b. Mensegmen pasar bisnis,
c. Memposisikan dan mendiferensiasikan produk,
d. Melaksanakan analisis lingkungan,
e. Mengembangkan studi riset pasar.
2. perilaku konsumen harus memainkan peranan yang penting dalam pengembangan
Kebijakan publik.

3. studi terhadap hai ini akan memungkinkan seseorang menjadi konsumen yang lebih
Efektif.

4. Analisis konsumen memberikan pengetahuan menyeluruh tentang perilaku manusia.

5. Studi perilaku konsumen juga memberikan tiga jenis informasi :
a. Orientasi Konsumen,
b. Fakta-fakta tentang perilaku manusia,
c. Teori-teori yang menjadi pedoman proses pemikiran.
Dan berikut pertanyaan yang terkait dengan perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan, dengan prinsip 5W+1H yang telah diterapkan oleh konsumen tanpa mereka sadari, antara lain:
1. Why : Mengapa mendapatkan barang/jasa tersebut ?
2. What : Berupa apa barang/jasa tersebut ?
3. Who : Siapa yang mendapatkan barang/jasa itu ?
4. When : Kapan bisa didapatkan barang/jasa tersebut ?
5. Where : Dimana barang/jasa tersebut bisa didapatkan ?
6. How : Bagaimana barang/jasa tersebut didapatkan ?
D. Isi Pemikiran
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen dalam Pembelian Suatu Produk , Perilaku Konsumen menurut Schiffman, Kanuk (2004, p. 8) adalah perilaku yang ditunjukkan konsumen dalam pencarian akan pembelian, penggunaan, pengevaluasian, dan penggantian produk dan jasa yang diharapkan dapat memuaskan kebutuhan konsumen.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah :

Faktor Sosial
a. Group
Sikap dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak grup-grup kecil. Kelompok dimana orang tersebut berada yang mempunyai pengaruh langsung disebut membership group. Membership group terdiri dari dua, meliputi primary groups (keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja) dan secondary groups yang lebih formal dan memiliki interaksi rutin yang sedikit (kelompok keagamaan, perkumpulan profesional dan serikat dagang). (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp. 203-204).
b. Family Influence
Keluarga memberikan pengaruh yang besar dalam perilaku pembelian. Para pelaku pasar telah memeriksa peran dan pengaruh suami, istri, dan anak dalam pembelian produk dan servis yang berbeda. Anak-anak sebagai contoh, memberikan pengaruh yang besar dalam keputusan yang melibatkan restoran fast food. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.204).
c. Roles and Status
Seseorang memiliki beberapa kelompok seperti keluarga, perkumpulan-perkumpulan, organisasi. Sebuah role terdiri dari aktivitas yang diharapkan pada seseorang untuk dilakukan sesuai dengan orang-orang di sekitarnya. Tiap peran membawa sebuah status yang merefleksikan penghargaan umum yang diberikan oleh masyarakat (Kotler, Amstrong, 2006, p.135).

Faktor Personal
a. Economic Situation
Keadaan ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk, contohnya rolex diposisikan konsumen kelas atas sedangkan timex dimaksudkan untuk konsumen menengah. Situasi ekonomi seseorang amat sangat mempengaruhi pemilihan produk dan keputusan pembelian pada suatu produk tertentu (Kotler, Amstrong, 2006, p.137).
b. Lifestyle
Pola kehidupan seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, ketertarikan, dan opini orang tersebut. Orang-orang yang datang dari kebudayaan, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama mungkin saja mempunyai gaya hidup yang berbeda (Kotler, Amstrong, 2006, p.138)
c. Personality and Self Concept
Personality adalah karakteristik unik dari psikologi yang memimpin kepada kestabilan dan respon terus menerus terhadap lingkungan orang itu sendiri, contohnya orang yang percaya diri, dominan, suka bersosialisasi, otonomi, defensif, mudah beradaptasi, agresif (Kotler, Amstrong, 2006, p.140). Tiap orang memiliki gambaran diri yang kompleks, dan perilaku seseorang cenderung konsisten dengan konsep diri tersebut (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.212).
d. Age and Life Cycle Stage
Orang-orang merubah barang dan jasa yang dibeli seiring dengan siklus kehidupannya. Rasa makanan, baju-baju, perabot, dan rekreasi seringkali berhubungan dengan umur, membeli juga dibentuk oleh family life cycle. Faktor-faktor penting yang berhubungan dengan umur sering diperhatikan oleh para pelaku pasar. Ini mungkin dikarenakan oleh perbedaan yang besar dalam umur antara orang-orang yang menentukan strategi marketing dan orang-orang yang membeli produk atau servis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.205-206)
e. Occupation
Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibeli. Contohnya, pekerja konstruksi sering membeli makan siang dari catering yang datang ke tempat kerja. Bisnis eksekutif, membeli makan siang dari full service restoran, sedangkan pekerja kantor membawa makan siangnya dari rumah atau membeli dari restoran cepat saji terdekat (Kotler, Bowen,Makens, 2003, p. 207).

Faktor Psychological
a. Motivation
Kebutuhan yang mendesak untuk mengarahkan seseorang untuk mencari kepuasan dari kebutuhan. Berdasarkan teori Maslow, seseorang dikendalikan oleh suatu kebutuhan pada suatu waktu. Kebutuhan manusia diatur menurut sebuah hierarki, dari yang paling mendesak sampai paling tidak mendesak (kebutuhan psikologikal, keamanan, sosial, harga diri, pengaktualisasian diri). Ketika kebutuhan yang paling mendesak itu sudah terpuaskan, kebutuhan tersebut berhenti menjadi motivator, dan orang tersebut akan kemudian mencoba untuk memuaskan kebutuhan paling penting berikutnya (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.214).
b. Perception
Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengorganisasi, dan menerjemahkan informasi untuk membentuk sebuah gambaran yang berarti dari dunia. Orang dapat membentuk berbagai macam persepsi yang berbeda dari rangsangan yang sama (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.215).
c. Learning
Pembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir) atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedback bagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan dalam situasi yang sama (Schiffman, Kanuk, 2004, p.207).
d. Beliefs and Attitude
Beliefs adalah pemikiran deskriptif bahwa seseorang mempercayai sesuatu. Beliefs dapat didasarkan pada pengetahuan asli, opini, dan iman (Kotler, Amstrong, 2006, p.144). Sedangkan attitudes adalah evaluasi, perasaan suka atau tidak suka, dan kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang pada sebuah obyek atau ide (Kotler, Amstrong, 2006, p.145).

Faktor Cultural
Nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang melalui keluarga dan lembaga penting lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.129). Penentu paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Culture, mengkompromikan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang secara terus-menerus dalam sebuah lingkungan. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.201-202).
a. Subculture
Sekelompok orang yang berbagi sistem nilai berdasarkan persamaan pengalaman hidup dan keadaan, seperti kebangsaan, agama, dan daerah (Kotler, Amstrong, 2006, p.130). Meskipun konsumen pada negara yang berbeda mempunyai suatu kesamaan, nilai, sikap, dan perilakunya seringkali berbeda secara dramatis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.202).
b. Social Class
Pengelompokkan individu berdasarkan kesamaan nilai, minat, dan perilaku. Kelompok sosial tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja misalnya pendapatan, tetapi ditentukan juga oleh pekerjaan, pendidikan, kekayaan, dan lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.132).

Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian menurut Schiffman, Kanuk (2004, p.547) adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan. Bentuk proses pengambilan keputusan tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Fully Planned Purchase, baik produk dan merek sudah dipilih sebelumnya. Biasanya terjadi ketika keterlibatan dengan produk tinggi (barang otomotif) namun bisa juga terjadi dengan keterlibatan pembelian yang rendah (kebutuhan rumah tangga). Planned purchase dapat dialihkan dengan taktik marketing misalnya pengurangan harga, kupon, atau aktivitas promosi lainnya.
2. Partially Planned Purchase, bermaksud untuk membeli produk yang sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda sampai saat pembelajaran. Keputusan akhir dapat dipengaruhi oleh discount harga, atau display produk
3. Unplanned Purchase, baik produk dan merek dipilih di tempat pembelian. Konsumen sering memanfaatkan katalog dan produk pajangan sebagai pengganti daftar belanja. Dengan kata lain, sebuah pajangan dapat mengingatkan sesorang akan kebutuhan dan memicu pembelian (Engel, F. James, et.al , 2001, pp.127-128)
E. METODOLOGI
Dalam penelitian ini digunakan data sekunder, sumber yang diperoleh dengan metode ini diperoleh data dari buku-buku referensi dan jurnal-jurnal serta referensi lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini. Studi konsumen memberikan petunjuk untuk memperbaiki dan memperkenalkan produk atau jasa, menetapkan harga, perencanaan saluran, menyusun pesan, dan mengembangkan kegiatan pemasaran lain termasuk dalam mengetahui perilaku konsumen. Studi ini sepenuhnya mempelajari teori maupun realitas perilaku konsumen, mencakup beberapa fakta penting tentang konsumen dan tren konsumen masa depan, seperti Astra Honda Motor dengan mulai menganalisa pasar dengan perencanaan tren motor ideal terbaik Indonesia. Perilaku pembelian konsumen sebenarnya di pengaruhi oleh faktor-faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Sedangkan faktor yang paling berpengaruh dan paling luas dan paling dalam adalah faktor budaya.
F. PEMBAHASAN
Perilaku konsumen merupakan studi tentang cara individu, kelompok, organisasi dalam menyeleksi, membeli, menggunakan, dan mendisposisikan barang, jasa, gagasan, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.
Sebelum dan sesudah melakukan pembelian, seorang konsumen akan melakukan sejumlah proses yang mendasari pengambilan keputusan, yakni:
1. Pengenalan masalah (problem recognition). Konsumen akan membeli suatu produk sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Tanpa adanya pengenalan masalah yang muncul, konsumen tidak dapat menentukan produk yang akan dibeli.
2. Pencarian informasi (information source). Setelah memahami masalah yang ada, konsumen akan termotivasi untuk mencari informasi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada melalui pencarian informasi. Proses pencarian informasi dapat berasal dari dalam memori (internal) dan berdasarkan pengalaman orang lain (eksternal).
3. Mengevaluasi alternatif (alternative evaluation). Setelah konsumen mendapat berbagai macam informasi, konsumen akan mengevaluasi alternatif yang ada untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.
4. Keputusan pembelian (purchase decision). Setelah konsumen mengevaluasi beberapa alternatif strategis yang ada, konsumen akan membuat keputusan pembelian. Terkadang waktu yang dibutuhkan antara membuat keputusan pembelian dengan menciptakan pembelian yang aktual tidak sama dikarenakan adanya hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan.
5. Evaluasi pasca pembelian (post-purchase evaluation) merupakan proses evaluasi yang dilakukan konsumen tidak hanya berakhir pada tahap pembuatan keputusan pembelian. Setelah membeli produk tersebut, konsumen akan melakukan evaluasi apakah produk tersebut sesuai dengan harapannya. Dalam hal ini, terjadi kepuasan dan ketidakpuasan konsumen. Konsumen akan puas jika produk tersebut sesuai dengan harapannya dan selanjutnya akan meningkatkan permintaan akan merek produk tersebut di masa depan. Sebaliknya, konsumen akan merasa tidak puas jika produk tersebut tidak sesuai dengan harapannya dan hal ini akan menurunkan permintaan konsumen di masa depan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
Terdapat 5 faktor internal yang relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian:
1. Motivasi (motivation) merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Persepsi (perception) merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau kejadian yang diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap rangsangan tersebut.
3. Pembentukan sikap (attitude formation) merupakan penilaian yang ada dalam diri seseorang yang mencerminkan sikap suka/tidak suka seseorang akan suatu hal.
4. Integrasi (integration) merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan. Integrasi merupakan respon atas sikap yang diambil. Perasaan suka akan mendorong seseorang untuk membeli dan perasaan tidak suka akan membulatkan tekad seseorang untuk tidak membeli produk tersebut.

G. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas telah didapatkan beberapa kesimpulan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam pemilihan produk.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen tersebut, sebagai berikut :
1. Kebudayaan.
Kebudayaan ini sifatnya sangat luas, dan menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Kebudayaan adalah simbul dan fakta yang kompleks, yang diciptakan oleh manusia, diturunkan dari generasi ke generasi sebagai penentu dan pengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat yang ada.
2. Kelas sosial.
Pembagian masyarakat ke dalam golongan/ kelompok berdasarkan pertimbangan tertentu, misal tingkat pendapatan, macam perumahan, dan lokasi tempat tinggal.
3. Kelompok referensi kecil.
Kelompok ‘kecil’ di sekitar individu yang menjadi rujukan bagaimana seseorang harus bersikap dan bertingkah laku, termasuk dalam tingkah laku pembelian, misal kelompok keagamaan, kelompok kerja, kelompok pertemanan, dll.
4. Keluarga.
Lingkungan inti dimana seseorang hidup dan berkembang, terdiri dari ayah, ibu dan anak. Dalam keluarga perlu dicermati pola perilaku pembelian yang menyangkut:
- Siapa yang mempengaruhi keputusan untuk membeli.
- Siapa yang membuat keputusan untuk membeli.
- Siapa yang melakukan pembelian.
- Siapa pemakai produknya.
5. Pengalaman.
Berbagai informasi sebelumnya yang diperoleh seseorang yang akan mempengaruhi perilaku selanjutnya.
6. Kepribadian.
Kepribadian dapat didefinisikan sebagai pola sifat individu yang dapat menentukan tanggapan untuk beringkah laku.
7. Sikap dan kepercayaan.
Sikap adalah suatu kecenderungan yang dipelajari untuk bereaksi terhadap penawaran produk dalam masalah yang baik ataupun kurang baik secara konsisten. Kepercayaan adalah keyakinan seseorang terhadap nilai-nilai tertentu yang akan mempengaruhi perilakunya.
8. Konsep diri.
Konsep diri merupakan cara bagi seseorang untuk melihat dirinya sendiri, dan pada saat yang sama ia mempunyai gambaran tentang diri orang lain.
H. DAFTAR PUSTAKA:
1. 02/10/2011.Tingkat Kepuasan Konsumen.http://www.google.com
2. 02/10/2011.Tingkat Kepuasan Konsumen di Alfamart.http://www.google.com
3. 02/10/2011.Tingkat Kepuasan Konsumen di Indomart.http://www.google.com
4. 02/10/2011.http://etd.eprints.ums.ac.id/5822/
5. 02/10/2011.http://library.gunadarma.ac.id/
6. Alma, B. 2005. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Edisi Revisi. CV. Alfabeta. Bandung.